ART & CULTUR
Wawancara dengan Pelukis Eddy Hermanto, "Karya seni selayaknya dicirikan dalam ruhnya"
2010-08-26 10:38:10

“Melukis bagi saya adalah masuknya ruang rekonsiliasi dan itu ruang tafsir bebas” itulah pernyataan awal pembicaraan Eddy Hermanto, pelukis yang berhasil di wawancarai VisitJakartaCity.com. Ia adalah pelukis Bandung, namanya secara kasat memang belum sehebat naman besar yang lain dari jajaran perupa muda Indonesia. Namun sepengamatan kami ia akan menjadi pelukis masa depan Indonesia. Kekuatan seniman satu ini kuat dengan karya abstraknya, kendati ia sendiri suka bermain dengan karya kartun dan gambar-gambar karikatur yang nakal dan jenaka. Eddy sapaan akrabnya adalah seniman lukis lulusan Seni Rupa IKIP Bandung, dan juga Master FSRD ITB '06  bidang Desain. Secara jam terbang pameran demi pameran dilakoni secara kontinyu. Eddy Hermanto memang sangat unik, kekuatannya karyanya penuh kontemplasi. Warna dan ikon gambarnya mengelitik, bahkan nakal. Dan tak jarang parodi karya muncul secara spontan. Inilah yang membuat Aendra Medita dari VisitJakartacity.com memilih sebagai tokoh muda dalam minggu ini untuk di wawancarai. Berikut adalah wawancaranya secara online dengan Eddy Hermanto ditengah kesibukannya:

Apa saja yag ada dalam imaji anda Saat berkarya?

Saya mencoba merepresentasikan realitas citra itulah yang kemudian ditransformasikan dalam bentuk permainan garis atau warna pada bidang lukisan. Saya kira imaji secara impuls kreatif bisa muncul di mana saja, lantaran imajinasi atau inspirasi harus diciptakan, bukan dicari. Diciptakan pastinya original akan terjaga

Konsep secara original seperti apa? apa ada pengaruh dari referensi?


Konsep karya bisa lahir secara orginal dan ada pula yang bersandar pada pengaruh referensi namun keduanya berangkat
dari intensitas yang bervariasi.  Ini ambivalensi pemaknaan yang terus dicari. Dominasi setiap periode pada awalnya menampilkan “wujud hidup” ( living forms), dan ketika memasuki periode abstrak banyak mencuatkan bidang-bidang absurd yang dibangun dengan kesadaran estetika, Artinya saya masih percaya dengan estetika sebagai landasan filsafat keindahan akan muncul.

Sejauh mana pengaruhnya?

Pengaruhnya selama rekacipta dan prinsif kerja kreatif bergulir,
selama itu pula pencarian intens merambah terus yang dibangun secara sistemik–holistik.

Berat juga ya?

Iya begitulah seni. Kadang berat kadang ya harus dijalani.

Apa yg sedang anda gelisahkan saat ini karya abstrak atau bentuk imajinatif?


Keduanya, telah menjadi pilihan, sebab menurut hemat saya yang “berbentuk” maupun yang “abstrak” (imajinatif)
memberi kesan elemen aura yang satu sama lain mempunyai kekuatan berbeda. Tentu tidak lepas dari estetika tadi.

Warna lukisan Anda dominan monocrom atau warna liar?

Untuk eksplore warna bergantung kebutuhan.
Secara visual karya-karya saya saat kini didominasi warna-warna pastel untuk mengelola kecenderungan
kreatif dalam pengolahan warna, hal ini tentu berbeda sekali dengan karya-karya awal saya misalnya seri Berkebun di atas kepala tahun 90-an. Yang memakai warna-warna liar ekstrem.

Sejauh mana konsep dan aktualisasi saat karya terwujud.?

Jika melukis saya memasuki ruang rekonsiliasi dimana ruang tafsir bebas untuk dituangkan ke dalam lukisan, namun tentu saja hal itu dilandasi dengan kesadaran personal dan ditransendenkan lewat bahasa rupa.  Saya mencoba utuk tidak terjebak pada karya yang mudah untuk dicerna. Namun paling tidak mengusung karya dengan berusaha memasukan unsur-unsur tanda dan penanda.
Semuanya itu tidak sekadar untuk merayakan visual saja namun bisa saja ditafsirkan dengan pelbagai kemungkinan atau pemahaman.

Secara keseharian Eddy Mengajar dan menjadi pegawai negeri, selain menjadi ia merasa hidup didua dunia ini  menyenangkan;
Ia mengaku selalu membagi waktu untuk keduanya. "Saya berusaha untuk membagi waktu dan hingga kini berjalan aman-aman saja dalam dua dunia itu antara mengajar dan menjadi seniman,"ujar Eddy.  Eddy yang memanbah ilmu pada tahun 2006 deengan mengambil master pada Seni Rupa di ITB merasa dapat banyak yangg didapat baik dalam muatan dan konsep, namun  ia juga mengakui kalau dalam kekaryaan saya eksplosi sendiri terus. "Kalau pada bentuk kekaryaan tidak banyak, namun dalam pola konsensus  muatan konsep seni dan dalam merekontruksi pemikiran iya lumayan," tandasnya


Menurut anda karya lebih penting apa yg bisa di bilang kontemporer

Ya karya diharapkan memberi “inspirasi” bagi siapa pun, sebab bahasa rupa jauh lebih universal ini terbukti sejak masa klasik,
modern hingga kontemporer saat ini.
Seni lukis yang mutakhir  menurut hemat saya adalah
yang memberi energi yang mampu menciptakan standar estetika, nurani dan moralitas manusia.

Apa sebabnya?

Sebab yang kontemporer bukan persoalan perupaan saja namun perkara pikiran, isi atau maknapun perlu diapungkan.

Ada tokoh seni anda yg kuat memberi inspirasi?

Ada secara perupaan banyak; Dari Popo Iskandar, Picasso hingga Andy Warhol dan pemikir Hasan Mustafa, Roland Barthes hingga Adorno.

Siapa saja kolektor lukisan Anda ?

Kolektor dari Indonesia bisa dihitung, namun kolektor dari luar lumayan dan yang masih setia kolektor dari Perancis Mr. Philipe.
 
Sebagai seniman anda punya credo?

Credo saya karya seni selayaknya dicirikan dalam tindakan lewat geist atau ruh yang merupakan bagian integral dari cara memandang dan mengekspresi ide-ide estetis.

Share |


rengganis

Flash News
djwirya
blueberd
Figure
 
copyright©2007.visitjakartacity.com