Sekolah Kalah
2009-05-25 03:11:35
Pada kenyataannnya kita adalah bangsa yang di siapkan tidak siap kalah. Bahkan mengalah, kita seolah harus menang setiap langkah. Sejumlah hal harus menang, setiap pertandingan harus menang, setiap pertemuan harus jadi pemenang, dan semua harus menang. Jadi Caleg harus menang, tak menang gila masuk rumah sakit Jiwa atau mati bunuh diri karena malu, dan lain sebagainya.
Memang jadi pemenang adalah sebuah prestasi. Lalu kenapa kalah kalah kita tak punya predikat?
Kesalahan utamanya adalah lingkungan kita pada masa kecil dipaksa untuk jadi pemenang, seakan pemenang segalanya. Bahwa yang kalah adalah salah, dan yang menang adalah JUARAnya saya kira itu doktrin buruk.
Dalam peta ini nampaknya mengebu-gebu terjadi di elit politik saat ini. Tiga pasangan Pilpres yang maju menjadi semua siap memang. Dan harus menjadi pemenang. Harus menjadi nomor satu. Kecap memang selalu nomor satu. Lantas apakah nomor dua tak berguna?
Jika didunia ada sekolah kalah, maka kiranya para elit politik yang merasa gagal wajib harusnya sekolah di sisni Jika bisa sekolah lagi biar tidak jadi bunuh diri dan mati konyol dari kekalahan.
Tapi sayang memang tak akan ada sekolah kalah di manapun di jagat raya ini.
Jika ada maka saya yang akan pertama daftar paling awal...hehehe..
Namun jika tanya apakah ada bedanya memaksa dan dipaksa? Pasti jawabnya adalah lebih baik mengalah untuk menang dari pada memaksa menjadi pemenang.
Dua hal antara kalah dan menang memang kontradiksi yang abadi. Inilah hidup bukan sekadar mimpi jadi pemenang atau yang pada kenyataannnya kita adalah bangsa yang di siapkan tidak untuk mengalah, kita seolah harus menang. Harus menjadi pemenang. Lantas yang kalah tak berguna. Ini salah besar. Maka dari itu lebih baik sekolah kalah ini diadakah agar siap kalah dan nanti kita bisa belajar dari kekalahan itu untuk jadi pemenang.
Siapa yang mau mendirikan sekolah kalah?
|