Ananda Sukarlan :
Titik temu Virtuositas dan kualitas musik

Ananda Sukarlan pianis dunia asal Indonesia yang menetap di Spanyol. Namun
pada Minggu 31 Mei lalu baru saja menggelar konser yang mengangkat puisi
karya Sapardi Djoko Damono. Dengan Tajuk "Ars Amatoria". Ia mengejewantahkan sastra dalam musik. Ditengah kesibukannya akan konser lanjutan Pocket Opera yang akan digelar Minggu 7 Juni 2009, dengan tajuk IBU-yang anaknya diculik itu di British International School World Theatre kawasan Bintaro sektor IX.
Ananda sempat berdialog dengan VisitJakartacity.com. Berikut petikan wawancara Aendra Medita dengan Ananda Sukarlan :
Konser kemarin luar biasa mas, sebagai sebuah karya sastra yg di interpretasikan
dalam wujud musik. Bagaimana pilihan ini bisa jatuh pada penyair besar sapardi ?
Terima kasih. He he ... itu sama saja seperti bertanya :
kenapa jatuh cinta sama si itu, bukan sama si ini ?
Itu satu hal yang berhubungan dgn metafisika,
bahkan juga estetika musik saya pada saat itu nge-"klik"
dengan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono (SDD). Saya kenal puisi SDD pertama kali,
sekitar Januari 2007
Bisa cerita proses awalnya?
Selama sekitar 1 bulan pertama sematamata hanya dengan membaca puisi-puisinyanya
lewat blog puisi Indonesia.
Kemudian kontak dgnnya, dan juga bertanya jika ada hal yang saya tidak mengerti.
Tapi pada dasarnya memang banyak hal yang bisa
di interpretasi banyak bait-bait puisinya istimewa:
kekayaan suasana yang dapat diinterpretasi menurut pembaca masing2.
Berapa lama karya musik ini dibuat?
Ars Amatoria saya buat dari Januari - Maret 2007,
kemudian nomor terakhir, "Yang Paling Menakjubkan" saya bikin selama sekitar 1 minggu di bulan September 2007.
Adakah kendala proses kreatif atau lancar?
Pada saat itu pengetahuan saya mengenai hubungan pengucapan (pronunciation)
bahasa Indonesia dan teknik vokal (terutama yang virtuosik)
masih cukup terbatas. Tapi I learned fast, dan sekarang saya sudah
tidak ada kendala itu. Selain itu, saya memilih sendiri puisi-puisi
yang memang " berbunyi" untuk saya, jadi semuanya bisa dibilang sangat lancar.
Bisa sebutkan karya yang paling kuat dari Karya puisi yang di bawakan dalam karya untuk Konser?
Karya yang spesifik mungkin tidak ada, tapi saya "nge-fan" berat dgn SDD dan Eka Budianta utk bhs Indonesia, Walt Whitman & Robert Frost utk bhs Inggris dan Luis Cernuda untukk bahasa Spanyol.
Selain karya Sapardi Anda juga pernah mengangkat ke musik Walt Whitman
"KAMA" karya Ilham Malayu, yang ditulis sewaktu dia dipenjara di Thailand.
Tapi memang, sampai 2006 keseluruhan karya-karya saya yang melibatkan
karya sastra selalu berdasarkan Whitman, Robert Frost, Lord Byron dan Longfellow.
Setelah Ilham Malayu dan SDD, banyak lah yg mulai menginspirasi saya,
soalnya saya mulai "paham" dengan bahasa Indonesia,
dan cara memadukannya dengan bahasa & estetika musik saya.
Setelah SDD lahirlah karya-karya saya berdasarkan puisi Rendra,
Eka Budianta, Joko Pinurbo, Medy Loekito, Hasan Aspahani,
Abang Edwin, S. Yoga, Goenawan Mohamad,
dan Ananda juga baru membuat musik dari Chairil Anwar's KRAWANG BEKASI.
Bisa tuliskan sepak terjang apa Anda ke depan bagi perjalanan muysik di dunia ini....?
Saya sedang membuat kantata yang kedua (yang pertama adalah ARS AMATORIA itu tadi), berjudul LIBERTAS. Kalau ini berdasarkan puisi dari berbagai penyair,
yaitu Archibald MacLeish, Luis Cernuda, Walt Whitman, Chairil Anwar,
WS Rendra, Sapardi DD, Ilham Malayu dan Hasan Aspahani.
He he .. my favorite poets lah.
Selain itu saya sedang membuat opera, kali ini bukan "pocket opera"
tapi bisa dibilang "grand opera" a la tradisi opera2 Italia tapi
tentu dengan bahasa musik masa kini, dan berbahasa Indonesia, "DAMARWULAN".
Sedangkan di Spanyol saya sedang ikut terlibat dalam proyek pemerintah
yang sangat ambisius, untuk mengintegrasi budaya musik klasik ke mereka
yang kurang mampu dan juga ke orang2 cacat. Mereka telah menunjuk komponis2
yang dianggap "representatif" dari Spanyol diantaranya Jesus Rueda, David del Puerto,
Santiago Lanchares dan saya merasa terhormat sebagai salah satunya untuk membuat musik untuk mereka yang cacat, tanpa mengurangi virtuositas dan kualitas musik itu sendiri. Ini yang akan menjadi titik temu dengan Yayasan yang saya dirikan juga di Indonesia, Yayasan Musik Sastra Indonesia.
(visitjakartacity.com)